PMM News – Cara Menyusun ATP dari PMM, Panduan Lengkap untuk Guru – Cara menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dari Platform Merdeka Mengajar (PMM) menjadi informasi penting bagi guru yang sedang menyiapkan perangkat pembelajaran. ATP berfungsi sebagai panduan untuk mengurutkan tujuan pembelajaran agar proses belajar peserta didik berjalan secara terarah, bertahap, dan sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) yang telah ditetapkan.
Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, guru dapat memanfaatkan referensi ATP yang tersedia di PMM atau menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri berdasarkan CP sesuai mata pelajaran dan fase yang diampu. Kedua pilihan tersebut dapat digunakan dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, karakteristik satuan pendidikan, serta alokasi waktu pembelajaran.
Bagi guru yang ingin lebih praktis, menggunakan ATP referensi dapat membantu mempercepat penyusunan perangkat ajar. Sementara itu, menyusun ATP secara mandiri memberikan keleluasaan untuk menyesuaikan urutan materi dengan kondisi kelas dan kebutuhan belajar murid.
Lantas, bagaimana cara menyusun ATP dari PMM dengan benar? Berikut panduan mulai dari mencari referensi, memahami CP, merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), hingga menyusun urutan pembelajaran yang logis.
Apa Itu ATP dalam Kurikulum Merdeka?
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian Tujuan Pembelajaran yang disusun secara sistematis dan logis agar peserta didik dapat mencapai Capaian Pembelajaran pada akhir suatu fase.
ATP membantu guru menentukan urutan kompetensi yang perlu dikembangkan sebelum peserta didik mencapai kemampuan yang diharapkan. Penyusunannya tidak sekadar membagi materi ke dalam beberapa pertemuan, tetapi juga mempertimbangkan keterkaitan antartujuan pembelajaran.
Sementara itu, Capaian Pembelajaran atau CP menggambarkan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai peserta didik pada akhir fase. Tujuan Pembelajaran merupakan rumusan kemampuan yang lebih spesifik sebagai bagian dari upaya mencapai CP tersebut.
Hubungan ketiganya dapat dipahami sebagai berikut:
- CP: kompetensi yang diharapkan pada akhir fase.
- TP: kemampuan yang dirumuskan sebagai tujuan pembelajaran.
- ATP: urutan TP yang disusun secara logis untuk membantu peserta didik mencapai CP.
Sebagai contoh, dalam pembelajaran Matematika, guru dapat merancang tujuan mulai dari memahami konsep pecahan, membandingkan nilai pecahan, hingga menyelesaikan masalah yang melibatkan pecahan. Urutan tersebut perlu disesuaikan dengan CP, fase, serta kebutuhan peserta didik.
Dengan ATP yang terencana, guru memiliki arah yang lebih jelas ketika menyusun modul ajar, menentukan kegiatan pembelajaran, dan melakukan asesmen.
Cara Mengunduh ATP Referensi dari PMM
Guru yang membutuhkan perangkat pembelajaran secara praktis dapat mencari contoh ATP melalui menu Perangkat Ajar pada layanan PMM. Referensi yang tersedia dapat menjadi bahan awal sebelum disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan.
1. Buka PMM dan Login Menggunakan Akun belajar.id
Akses layanan PMM melalui alamat berikut:
Masuk menggunakan akun belajar.id yang memiliki akses ke layanan tersebut.
Setelah berhasil login, perhatikan menu yang tersedia pada halaman utama. Jika tampilan atau nama menu sudah berubah, ikuti navigasi terbaru yang disediakan oleh platform.
2. Masuk ke Menu Perangkat Ajar
Pilih menu Perangkat Ajar untuk mencari referensi pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran dan fase.
Pada bagian ini, guru dapat menelusuri berbagai perangkat pembelajaran yang tersedia. Gunakan fitur pencarian atau filter yang disediakan agar hasilnya lebih sesuai dengan kebutuhan.
Jika ingin mencari ATP, gunakan kata kunci yang spesifik, misalnya ATP Matematika Fase C atau ATP IPAS Fase B.
3. Tentukan Mata Pelajaran dan Fase
Pilih mata pelajaran yang diampu serta fase yang sesuai dengan jenjang dan kelas peserta didik.
Sebagai gambaran, Fase A umumnya mencakup kelas I–II SD, Fase B kelas III–IV SD, dan Fase C kelas V–VI SD.
Pastikan fase yang dipilih sesuai dengan dokumen CP yang digunakan. Jangan hanya mengandalkan nama kelas karena perangkat ajar perlu disesuaikan dengan fase dan ketentuan kurikulum yang berlaku.
4. Cari ATP yang Sesuai
Gunakan filter atau kategori perangkat ajar untuk menemukan dokumen Alur Tujuan Pembelajaran jika tersedia.
Periksa informasi mengenai mata pelajaran, fase, penyusun, serta isi dokumen sebelum memutuskan untuk menggunakannya.
ATP referensi dapat membantu memberikan gambaran tentang urutan tujuan pembelajaran. Namun, guru tetap perlu menilai apakah urutan tersebut sesuai dengan kondisi peserta didik, karakteristik sekolah, dan alokasi waktu yang tersedia.
5. Unduh dan Periksa Dokumen
Jika tersedia tombol unduh, simpan dokumen ATP ke perangkat yang digunakan.
Periksa format dan isi dokumen setelah berhasil diunduh. Apabila dokumen berupa PDF, guru dapat menggunakannya sebagai referensi. Jika tersedia format yang dapat diedit, penyesuaian dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Penting: ATP referensi sebaiknya tidak langsung digunakan tanpa pemeriksaan. Guru perlu memastikan kesesuaian CP, tujuan pembelajaran, urutan materi, dan alokasi waktu dengan kondisi pembelajaran yang sebenarnya.
Cara Menyusun ATP Secara Mandiri Berdasarkan CP dari PMM
Selain menggunakan referensi yang tersedia, guru dapat menyusun ATP sendiri. Cara ini memungkinkan perencanaan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan murid dan karakteristik satuan pendidikan.
Penyusunan mandiri sebaiknya dimulai dari CP yang berlaku, bukan sekadar menyusun daftar materi berdasarkan buku teks.
1. Pelajari Capaian Pembelajaran
Buka bagian referensi kurikulum atau perangkat pembelajaran pada layanan resmi untuk menemukan CP sesuai mata pelajaran dan fase.
Baca keseluruhan rumusan CP sebelum menyusun tujuan pembelajaran. Perhatikan kompetensi yang harus dikuasai, ruang lingkup materi, dan keterampilan yang diharapkan berkembang.
Jika CP terdiri atas beberapa elemen, telaah setiap elemen secara terpisah terlebih dahulu. Langkah ini membantu guru memahami cakupan pembelajaran secara menyeluruh.
Pastikan dokumen CP yang digunakan sesuai dengan ketentuan kurikulum yang berlaku untuk tahun ajaran terkait.
2. Identifikasi Kompetensi dan Materi Inti
Setelah memahami CP, uraikan rumusan tersebut menjadi dua bagian utama, yaitu kompetensi yang perlu dikuasai dan materi atau konten yang perlu dipelajari.
Misalnya, pada pembelajaran Matematika, CP dapat mencakup kemampuan memahami konsep bilangan dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
Dari rumusan tersebut, guru dapat mengidentifikasi kompetensi seperti memahami, membandingkan, menghitung, dan menerapkan konsep dalam situasi sehari-hari.
Identifikasi ini membantu guru menghindari tujuan pembelajaran yang hanya berisi daftar materi tanpa menjelaskan kemampuan yang perlu dicapai peserta didik.
3. Rumuskan Tujuan Pembelajaran
Setelah mengidentifikasi kompetensi dan materi, susun Tujuan Pembelajaran yang lebih spesifik.
Rumusan TP sebaiknya menjelaskan kemampuan yang diharapkan dapat ditunjukkan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.
Sebagai contoh, untuk materi pecahan di sekolah dasar, TP dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Peserta didik mampu menjelaskan makna pecahan melalui gambar atau benda konkret.
- Peserta didik mampu membandingkan dua pecahan dengan penyebut yang sama.
- Peserta didik mampu menyelesaikan masalah sehari-hari yang melibatkan pecahan sederhana.
Contoh tersebut hanya ilustrasi. Rumusan yang digunakan dalam dokumen sekolah harus disesuaikan dengan CP, fase, dan kedalaman materi yang direncanakan.
Guru dapat menggunakan unsur kompetensi dan lingkup materi untuk menyusun TP. Unsur lain, seperti kondisi dan tingkat keberhasilan, dapat ditambahkan jika membantu memperjelas tujuan dan kebutuhan asesmen.
4. Susun Urutan TP Menjadi ATP
Setelah seluruh TP dirumuskan, susun tujuan tersebut menjadi alur yang logis.
Urutan pembelajaran perlu mempertimbangkan pengetahuan awal peserta didik, tingkat kesulitan, hubungan antarkonsep, dan kompetensi prasyarat.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan.
Dari konkret ke abstrak. Peserta didik mempelajari konsep melalui benda atau situasi nyata sebelum beralih ke simbol dan konsep yang lebih abstrak.
Dari mudah ke kompleks. Pembelajaran dimulai dengan kemampuan dasar, kemudian dilanjutkan ke persoalan yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam.
Berdasarkan prasyarat. Tujuan yang menjadi dasar bagi tujuan berikutnya ditempatkan lebih awal agar peserta didik memiliki bekal yang cukup.
Dari umum ke khusus. Guru memperkenalkan gambaran konsep yang lebih luas, kemudian mengarahkan pembelajaran pada bagian yang lebih spesifik jika pendekatan tersebut sesuai dengan karakter materi.
Tidak semua mata pelajaran harus menggunakan pola pengurutan yang sama. Guru perlu memilih urutan yang paling masuk akal berdasarkan karakteristik kompetensi dan kebutuhan belajar murid.
5. Tentukan Alokasi Waktu
Setelah urutan TP terbentuk, petakan waktu yang diperlukan untuk mencapai setiap tujuan pembelajaran.
Pertimbangkan jumlah jam pelajaran, kalender pendidikan, kegiatan sekolah, serta tingkat kesulitan materi.
Tujuan yang memerlukan latihan berulang atau kegiatan proyek mungkin membutuhkan waktu lebih panjang daripada tujuan yang berfokus pada pengenalan konsep dasar.
Alokasi waktu tidak harus dibagi secara merata. Yang terpenting, pembagian waktu realistis dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memahami materi, berlatih, memperoleh umpan balik, serta mengikuti asesmen.
6. Sesuaikan ATP dengan Kebutuhan Peserta Didik
ATP yang baik harus mempertimbangkan kondisi nyata di kelas.
Guru dapat menggunakan hasil asesmen awal, pengamatan pembelajaran, dan informasi tentang kemampuan peserta didik untuk menentukan apakah urutan TP perlu disesuaikan.
Jika peserta didik belum menguasai kompetensi prasyarat, guru dapat merencanakan penguatan sebelum melanjutkan ke tujuan berikutnya.
Sebaliknya, jika kompetensi dasar sudah dikuasai, kegiatan pembelajaran dapat diarahkan pada penerapan konsep atau tantangan yang lebih kompleks sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, ATP tidak hanya menjadi dokumen administrasi, tetapi juga membantu guru merencanakan pembelajaran yang lebih terarah.
Komponen Penting dalam Dokumen ATP
Format ATP dapat berbeda sesuai kebutuhan satuan pendidikan dan panduan yang digunakan. Meski demikian, ada sejumlah informasi yang umumnya bermanfaat untuk dicantumkan agar dokumen mudah dipahami dan digunakan.
| Komponen | Isi yang Dicantumkan |
|---|---|
| Identitas | Satuan pendidikan, mata pelajaran, fase atau kelas, dan periode pembelajaran jika diperlukan |
| Capaian Pembelajaran | Rumusan CP sesuai dokumen resmi yang berlaku |
| Elemen CP | Elemen mata pelajaran yang relevan, jika CP disusun berdasarkan elemen |
| Tujuan Pembelajaran | Rumusan kemampuan yang diharapkan dicapai peserta didik |
| Urutan ATP | Susunan TP secara logis dan berkesinambungan |
| Alokasi waktu | Perkiraan waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran |
| Catatan pendukung | Keterangan atau kata kunci materi jika diperlukan untuk memperjelas penggunaan dokumen |
Dimensi Profil Lulusan atau unsur karakter yang relevan dapat dipetakan dalam perencanaan pembelajaran sesuai kebijakan kurikulum yang berlaku. Guru sebaiknya memeriksa nomenklatur dan ketentuan terbaru, bukan menyalin format dari dokumen lama secara otomatis.
Tidak semua unsur tambahan harus dipaksakan masuk ke dalam ATP. Utamakan kejelasan CP, rumusan TP, urutan pembelajaran, dan alokasi waktu. Komponen lain dapat ditambahkan apabila memang dibutuhkan untuk perencanaan pembelajaran.
Contoh Sederhana Penyusunan ATP Matematika SD
Untuk memberikan gambaran, berikut contoh sederhana alur tujuan pembelajaran pada materi pecahan. Contoh ini bukan ATP resmi dan perlu disesuaikan dengan CP serta fase yang digunakan.
| Urutan | Tujuan Pembelajaran | Perkiraan Fokus |
|---|---|---|
| 1 | Menjelaskan makna pecahan melalui benda konkret dan gambar | Pemahaman konsep |
| 2 | Menentukan nilai pecahan dari gambar atau model sederhana | Representasi pecahan |
| 3 | Membandingkan pecahan dengan penyebut yang sama | Perbandingan nilai |
| 4 | Menyelesaikan masalah sehari-hari yang melibatkan pecahan | Penerapan konsep |
Urutan tersebut menunjukkan bahwa peserta didik terlebih dahulu mengenal konsep, kemudian membaca representasi, membandingkan nilai, dan menerapkan pemahaman dalam masalah.
Guru dapat mengembangkan contoh tersebut dengan menambahkan TP lain sesuai cakupan CP, kebutuhan kelas, serta waktu pembelajaran. Alokasi waktu juga perlu ditentukan berdasarkan tingkat kesiapan peserta didik dan kedalaman materi.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyusun ATP
Ada beberapa kesalahan yang dapat membuat ATP kurang efektif digunakan.
Pertama, menyusun ATP hanya berdasarkan urutan bab buku teks tanpa memeriksa CP. Buku dapat menjadi sumber belajar, tetapi urutan tujuan pembelajaran tetap perlu mengacu pada kompetensi yang harus dicapai.
Kedua, merumuskan TP terlalu luas sehingga sulit digunakan sebagai dasar untuk menentukan kegiatan dan asesmen.
Ketiga, menyusun urutan TP tanpa mempertimbangkan kompetensi prasyarat. Hal ini dapat membuat peserta didik kesulitan mengikuti pembelajaran berikutnya.
Keempat, menentukan alokasi waktu secara asal atau membaginya sama rata tanpa melihat kompleksitas materi.
Kelima, menggunakan ATP hasil unduhan tanpa penyesuaian. Referensi dari PMM dapat membantu, tetapi kondisi setiap kelas dan satuan pendidikan tidak selalu sama.
Karena itu, guru perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum menggunakan ATP sebagai dasar penyusunan modul ajar atau perangkat pembelajaran lainnya.
Tips agar ATP Mudah Digunakan dalam Pembelajaran
Agar ATP benar-benar membantu pelaksanaan pembelajaran, gunakan rumusan yang jelas dan tidak terlalu panjang. Setiap TP sebaiknya menggambarkan kemampuan yang dapat diamati atau dinilai melalui kegiatan belajar.
Susun urutan yang mudah dipahami oleh guru lain apabila dokumen digunakan bersama dalam satuan pendidikan. Jika ATP dikembangkan melalui diskusi kelompok kerja guru, lakukan penyelarasan agar urutan tujuan tetap sesuai dengan CP dan kebutuhan peserta didik.
Guru juga dapat memeriksa kembali ATP setelah pembelajaran berlangsung. Hasil asesmen dan pengalaman di kelas dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi apakah alur yang direncanakan sudah realistis atau perlu diperbaiki pada perencanaan berikutnya.
Pada akhirnya, cara menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dari PMM dapat dilakukan dengan dua pilihan, yaitu menggunakan referensi yang tersedia atau menyusunnya secara mandiri berdasarkan Capaian Pembelajaran. Jika menggunakan referensi, guru tetap perlu memeriksa kesesuaiannya dengan fase, kebutuhan murid, dan kondisi sekolah. Jika menyusun sendiri, mulailah dengan memahami CP, merumuskan TP yang jelas, mengurutkannya secara logis, serta menentukan alokasi waktu yang realistis. Dengan perencanaan yang cermat, ATP dapat menjadi panduan pembelajaran yang terarah sekaligus membantu guru menyusun modul ajar dan melaksanakan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.