Cara Menggunakan Asesmen Awal Pembelajaran Fase A, B, C, dan D dari PMM secara Online dan Offline
berita pmm – Cara Menggunakan Asesmen Awal Pembelajaran Fase A, B, C, dan D dari PMM secara Online dan Offline Memasuki tahun ajaran baru, guru perlu mengetahui kemampuan awal peserta didik agar proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui asesmen diagnostik literasi dan numerasi. Asesmen ini membantu guru memetakan kemampuan siswa, mengidentifikasi materi yang sudah dikuasai, serta menemukan aspek pembelajaran yang masih perlu diperkuat.
Kini, guru dapat memanfaatkan berbagai perangkat asesmen yang tersedia melalui platform pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Soal-soal tersebut dapat dipilih sesuai fase perkembangan siswa, kemudian digunakan secara daring maupun luring.
Keberadaan asesmen diagnostik menjadi penting karena kemampuan setiap peserta didik tidak selalu sama, meskipun berada dalam jenjang kelas yang serupa. Dengan mengetahui kondisi awal siswa, guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
Apa Itu Asesmen Diagnostik Literasi dan Numerasi?
Asesmen diagnostik literasi dan numerasi merupakan kegiatan penilaian yang bertujuan mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum atau ketika proses pembelajaran berlangsung. Hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kegiatan belajar yang sesuai dengan tingkat pencapaian siswa.
Dalam aspek literasi, penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks, tetapi juga mencakup pemahaman informasi, penarikan kesimpulan, penafsiran isi bacaan, serta kemampuan mengevaluasi informasi yang disajikan.
Sementara itu, asesmen numerasi digunakan untuk melihat kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikan persoalan. Kemampuan tersebut dapat mencakup penguasaan bilangan, aljabar, geometri, serta pengolahan data dan ketidakpastian.
Melalui kedua jenis asesmen tersebut, guru dapat memperoleh gambaran mengenai kemampuan yang sudah berkembang dan kompetensi yang masih membutuhkan pendampingan.
Perlu dipahami bahwa asesmen diagnostik bukan sekadar kegiatan memberikan nilai kepada siswa. Tujuan utamanya adalah memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Link Asesmen Literasi dan Numerasi Siswa Tahun Ajaran Baru
Guru yang membutuhkan soal asesmen dapat memanfaatkan sumber belajar dan perangkat penilaian yang tersedia di platform resmi pendidikan. Salah satu rujukan yang dapat digunakan adalah portal Rumah Pendidikan melalui layanan yang berkaitan dengan Ruang GTK.
Guru dapat mengakses portal berikut untuk mulai mencari perangkat asesmen:
Portal Guru dan tenaga kependidikan: https://guru.kemendikdasmen.go.id/
Selain itu, guru dapat mengakses platform pembelajaran yang tersedia melalui akun pendidikan masing-masing untuk menemukan perangkat asesmen yang sesuai.
Ketersediaan soal perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran, fase peserta didik, serta kompetensi yang ingin diukur. Karena itu, guru sebaiknya memeriksa terlebih dahulu isi perangkat asesmen sebelum menggunakannya di kelas.
Perlu diperhatikan bahwa alamat menu dan ketersediaan perangkat dapat berubah mengikuti pembaruan platform. Jika suatu soal tidak ditemukan pada menu tertentu, guru dapat mencoba fitur pencarian atau melihat kategori asesmen lainnya.
Cara Mencari dan Mengunduh Soal Asesmen di Platform Guru
Untuk mempermudah proses persiapan pembelajaran, guru dapat mengikuti tahapan berikut.
1. Buka portal resmi pendidikan
Langkah pertama adalah mengunjungi portal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen melalui alamat https://guru.kemendikdasmen.go.id/. Pastikan alamat yang digunakan merupakan situs resmi agar informasi dan perangkat yang diakses dapat dipertanggungjawabkan.
2. Cari menu asesmen atau perangkat pembelajaran
Setelah masuk ke platform, cari layanan yang menyediakan perangkat pembelajaran dan asesmen. Pada beberapa layanan, guru mungkin perlu masuk menggunakan akun yang tersedia untuk mengakses fitur tertentu.
3. Pilih fase yang sesuai dengan peserta didik
Guru perlu menentukan fase asesmen berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Pemilihan fase harus mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa dan kompetensi yang ingin dipetakan, bukan hanya berpatokan pada nama jenjang kelas.
4. Tentukan jenis kemampuan yang akan diukur
Berikutnya, pilih asesmen literasi atau numerasi. Apabila guru ingin mengetahui kemampuan membaca dan memahami teks, asesmen literasi dapat menjadi pilihan. Sebaliknya, asesmen numerasi digunakan untuk memetakan pemahaman konsep matematika dan penerapannya.
5. Periksa soal dan petunjuk pengerjaan
Sebelum soal diberikan kepada siswa, guru sebaiknya membaca petunjuk, memeriksa kesesuaian materi, serta memastikan instrumen penilaian dapat digunakan untuk mencapai tujuan asesmen.
6. Unduh atau bagikan asesmen
Jika tersedia, guru dapat mengunduh perangkat soal untuk digunakan secara luring atau membagikan tautan asesmen untuk pengerjaan secara daring. Periksa pula apakah perangkat tersebut menyediakan pedoman penskoran atau kunci jawaban.
Dengan mengikuti tahapan tersebut, guru dapat mempersiapkan asesmen secara lebih terarah tanpa harus menyusun seluruh instrumen dari awal.
Perbedaan Asesmen Literasi dan Numerasi
Walaupun sering digunakan secara bersamaan, asesmen literasi dan numerasi memiliki fokus pengukuran yang berbeda. Guru perlu memahami perbedaan keduanya agar instrumen yang dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran.
| Jenis asesmen | Fokus penilaian | Contoh kemampuan yang diukur |
|---|---|---|
| Literasi teks sastra | Memahami karya sastra | Menemukan informasi, menyimpulkan sifat tokoh, dan menilai kesesuaian ilustrasi dengan isi cerita |
| Literasi teks informasi | Memahami informasi faktual | Menemukan informasi tersurat, mengidentifikasi topik, dan menyimpulkan peristiwa |
| Numerasi bilangan | Memahami konsep bilangan | Melakukan perhitungan dan menggunakan bilangan untuk memecahkan masalah |
| Numerasi aljabar | Memahami pola dan hubungan matematika | Mengenali pola serta menyelesaikan persoalan sederhana yang melibatkan hubungan antarbilangan |
| Numerasi geometri | Memahami bentuk dan ruang | Mengidentifikasi bentuk, sifat bangun, dan hubungan spasial |
| Numerasi data dan ketidakpastian | Membaca dan menafsirkan data | Memahami tabel, diagram, serta menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia |
Contoh tersebut merupakan gambaran umum kompetensi yang dapat dinilai. Materi dan tingkat kesulitan soal harus disesuaikan dengan fase serta perangkat asesmen yang digunakan.
Mengenal Fase A, B, C, D, E, dan F
Dalam pembelajaran berdasarkan fase, guru perlu memilih perangkat asesmen yang sesuai dengan perkembangan kompetensi peserta didik.
Secara umum, pembagian fase dalam Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut:
- Fase A: umumnya untuk kelas I dan II SD/MI.
- Fase B: umumnya untuk kelas III dan IV SD/MI.
- Fase C: umumnya untuk kelas V dan VI SD/MI.
- Fase D: umumnya untuk kelas VII, VIII, dan IX SMP/MTs.
- Fase E: umumnya untuk kelas X SMA/MA/SMK atau sederajat.
- Fase F: umumnya untuk kelas XI dan XII SMA/MA/SMK atau sederajat.
Pembagian tersebut merupakan gambaran umum. Dalam pelaksanaannya, guru tetap perlu memperhatikan kurikulum, karakteristik satuan pendidikan, dan kebutuhan belajar setiap siswa.
Pemilihan fase yang tepat membantu guru memperoleh informasi yang lebih relevan mengenai kemampuan peserta didik. Apabila instrumen terlalu mudah atau terlalu sulit, hasil asesmen berpotensi kurang menggambarkan kebutuhan belajar siswa secara akurat.
Cara Melaksanakan Asesmen Secara Daring dan Luring
Guru dapat melaksanakan asesmen diagnostik melalui dua cara, yaitu daring dan luring. Pemilihan metode dapat disesuaikan dengan ketersediaan perangkat, jaringan internet, serta kondisi peserta didik.
1. Pelaksanaan asesmen secara daring
Pada metode daring, guru dapat menggunakan tautan asesmen yang tersedia pada platform pembelajaran. Jika fitur berbagi tautan disediakan, tautan tersebut dapat dikirimkan kepada siswa melalui Google Classroom atau grup WhatsApp kelas.
Sebelum membagikan tautan, guru perlu memastikan siswa memahami petunjuk pengerjaan dan mengetahui batas waktu apabila memang ditetapkan.
Setelah siswa menyelesaikan asesmen, guru dapat memeriksa hasil yang tersedia melalui platform terkait. Jika asesmen menggunakan formulir daring yang mendukung rekapitulasi otomatis, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk melihat pola kemampuan siswa.
Namun, guru tetap perlu meninjau hasil tersebut secara cermat. Nilai yang diperoleh sebaiknya tidak langsung dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan kemampuan siswa, terutama jika terdapat kendala teknis selama pengerjaan.
2. Pelaksanaan asesmen secara luring
Metode luring dapat digunakan apabila siswa memiliki keterbatasan akses internet atau sekolah ingin melaksanakan asesmen menggunakan lembar soal cetak.
Guru dapat mengunduh perangkat asesmen yang tersedia, mencetak soal, kemudian membagikannya kepada peserta didik. Jika tersedia, kunci jawaban dan pedoman penskoran dapat digunakan untuk membantu proses pemeriksaan.
Setelah pengerjaan selesai, guru mengoreksi jawaban dan merekapitulasi hasil secara manual. Hasil tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kompetensi yang sudah dikuasai dan bagian yang masih memerlukan penguatan.
Pelaksanaan secara luring tetap perlu memperhatikan petunjuk penggunaan instrumen. Guru juga harus memastikan bahwa soal yang dicetak sesuai dengan tujuan asesmen dan tingkat kemampuan siswa.
Cara Menganalisis Hasil Asesmen Diagnostik
Setelah asesmen dilaksanakan, pekerjaan guru tidak berhenti pada pemeriksaan jawaban. Tahap berikutnya adalah menganalisis hasil untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.
Sebagai contoh, hasil asesmen literasi dapat menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah mampu menemukan informasi tersurat, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menyimpulkan isi bacaan. Informasi tersebut dapat digunakan guru untuk merancang kegiatan membaca yang lebih menekankan latihan menarik kesimpulan.
Dalam numerasi, hasil asesmen mungkin memperlihatkan bahwa siswa mampu melakukan operasi hitung dasar, tetapi belum dapat menerapkannya dalam soal cerita. Guru dapat memberikan latihan kontekstual agar siswa terbiasa menghubungkan konsep matematika dengan situasi sehari-hari.
Analisis sebaiknya dilakukan berdasarkan kompetensi, bukan hanya nilai keseluruhan. Dengan demikian, guru dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki secara lebih spesifik.
Guru juga dapat mengelompokkan kebutuhan belajar siswa untuk sementara, misalnya siswa yang memerlukan pendampingan tambahan, siswa yang sudah mencapai kompetensi dasar, dan siswa yang membutuhkan tantangan lebih lanjut. Pengelompokan ini perlu bersifat fleksibel karena kemampuan siswa dapat berkembang selama proses pembelajaran.
Mengapa Asesmen Awal Penting bagi Guru?
Asesmen awal membantu guru menghindari pembelajaran yang hanya berpatokan pada asumsi bahwa seluruh siswa memiliki kemampuan yang sama. Padahal, peserta didik datang ke kelas dengan pengalaman, pengetahuan, dan kecepatan belajar yang berbeda.
Dengan memanfaatkan hasil asesmen, guru dapat menyusun pembelajaran yang lebih relevan, menentukan materi penguatan, serta memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Asesmen juga merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran. Hasilnya dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas strategi mengajar dan menentukan apakah suatu materi perlu dijelaskan kembali dengan metode berbeda.
Pelaksanaan asesmen perlu mengutamakan prinsip keadilan, validitas, dan keterpercayaan. Instrumen harus sesuai dengan kompetensi yang diukur, petunjuk pengerjaan perlu disampaikan dengan jelas, dan hasil penilaian harus digunakan secara bertanggung jawab.
Selain itu, guru sebaiknya menjelaskan kepada siswa bahwa asesmen diagnostik bertujuan membantu proses belajar, bukan sekadar memberikan label berdasarkan hasil tes. Dengan pemahaman tersebut, siswa diharapkan dapat mengikuti asesmen secara lebih nyaman dan menunjukkan kemampuan mereka secara optimal.
Kesimpulan
Link asesmen diagnostik literasi dan numerasi siswa untuk tahun ajaran baru dapat dimanfaatkan guru sebagai salah satu sarana untuk memetakan kemampuan awal peserta didik. Melalui portal resmi pendidikan dan layanan asesmen yang tersedia, guru dapat mencari perangkat soal berdasarkan fase, memilih kompetensi yang akan diukur, serta menggunakan instrumen secara daring maupun luring sesuai kondisi sekolah. Hasil asesmen selanjutnya perlu dianalisis untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran yang tepat. Dengan persiapan yang baik, asesmen tidak hanya menjadi kegiatan penilaian, tetapi juga membantu guru merancang pembelajaran yang lebih terarah, sesuai kebutuhan, dan mendukung perkembangan kemampuan literasi serta numerasi siswa secara berkelanjutan.