PMM News – Guru yang sedang menyusun modul ajar, jangan buru-buuru mencari CP dan ATP di tempat lain karena Ruang GTK ternyata sudah menyediakan refrensi sesuai jenjang, mata pelajaran, dan fase pembelajaran. Guru kini tidak perlu mencari jauh-jauh ketika membutuhkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) untuk menyusun perangkat ajar. Informasi tersebut tersedia di Ruang GTK dan dapat disesuaikan berdasarkan jenjang, mata pelajaran, serta fase yang diajarkan.
Ketersediaan perangkat pembelajaran menjadi salah satu hal penting bagi guru dalam mempersiapkan kegiatan belajar mengajar. Terlebih ketika guru sedang menyusun modul ajar, keberadaan CP, TP, dan ATP menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar perencanaan pembelajaran memiliki arah yang jelas.
Melalui Ruang GTK, guru dapat menemukan berbagai sumber yang berkaitan dengan perangkat ajar, termasuk informasi mengenai Capaian Pembelajaran dan contoh Alur Tujuan Pembelajaran. Guru tinggal menyesuaikan pilihan dengan jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang diampu.
CP Menjadi Acuan dalam Pembelajaran
Capaian Pembelajaran atau CP merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. Dokumen CP resmi pemerintah disusun berdasarkan mata pelajaran dan mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah.
Dalam dokumen resmi CP, pembagian fase secara umum terdiri atas Fase A sampai Fase F. Fase tersebut tidak semata-mata berdasarkan satu tingkat kelas, tetapi menggambarkan tahapan capaian kompetensi peserta didik.
Untuk pendidikan dasar dan menengah, pembagian fase secara umum adalah sebagai berikut:
| Fase | Kelas yang Umumnya Terkait |
|---|---|
| Fase A | Kelas I–II SD |
| Fase B | Kelas III–IV SD |
| Fase C | Kelas V–VI SD |
| Fase D | Kelas VII–IX SMP |
| Fase E | Kelas X SMA/SMK |
| Fase F | Kelas XI–XII SMA/SMK |
Pembagian tersebut tercantum dalam berbagai dokumen CP resmi pemerintah.
Karena itu, ketika guru mencari CP melalui Ruang GTK, pemilihan fase perlu disesuaikan dengan jenjang dan kelas yang diajar.
Cara Guru Menemukan CP di Ruang GTK
Guru yang ingin melihat CP dapat masuk ke layanan Ruang GTK menggunakan akun yang dimiliki. Setelah berada di dalam layanan, guru dapat menuju bagian yang berkaitan dengan perangkat ajar.
Pada bagian tersebut tersedia pilihan untuk mencari Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran berdasarkan mata pelajaran.
Guru kemudian dapat menentukan jenjang pendidikan terlebih dahulu. Pilihan jenjang akan menyesuaikan kebutuhan, mulai dari PAUD atau sederajat hingga pendidikan dasar dan menengah.
Setelah jenjang ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih mata pelajaran atau program yang ingin dicari.
Misalnya, guru mengajar Bahasa Inggris di SMP. Guru dapat memilih jenjang SMP, kemudian mencari mata pelajaran Bahasa Inggris. Setelah mata pelajaran dipilih, sistem akan menampilkan materi yang berkaitan dengan CP dan ATP yang tersedia.
Pilih Fase Sesuai Kelas yang Diajar
Setelah menentukan mata pelajaran, guru perlu memilih fase yang sesuai.
Sebagai contoh, guru SMP akan berkaitan dengan Fase D, yang pada umumnya mencakup kelas VII, VIII, dan IX. Dalam dokumen CP resmi, Fase D memang digunakan untuk jenjang SMP/MTs atau bentuk pendidikan yang setara.
Sementara guru SD dapat menyesuaikan pencarian dengan Fase A, B, atau C berdasarkan kelas yang diampu.
Pemilihan fase ini penting karena CP setiap fase memiliki target kompetensi yang berbeda. Guru sebaiknya tidak langsung mengambil CP dari fase lain hanya karena mata pelajarannya sama.
CP Tidak Hanya Berisi Satu Capaian
Ketika guru membuka CP suatu mata pelajaran, informasi yang ditampilkan tidak selalu hanya berupa satu paragraf umum.
Dalam sejumlah dokumen CP, capaian pembelajaran juga dijabarkan berdasarkan elemen. Elemen tersebut memberikan gambaran lebih spesifik mengenai kompetensi yang perlu dikembangkan peserta didik.
Hal tersebut dapat membantu guru ketika menyusun pembelajaran karena guru dapat melihat kemampuan yang ditargetkan pada akhir fase sekaligus memahami ruang lingkup kompetensi dalam mata pelajaran tersebut.
Sebagai contoh, dalam mata pelajaran tertentu terdapat elemen yang berkaitan dengan menyimak, berbicara, membaca, memirsa, menulis, atau mempresentasikan. Guru kemudian dapat menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu bahan ketika menyusun perencanaan pembelajaran.
ATP Membantu Guru Menyusun Tujuan Pembelajaran
Selain CP, guru juga dapat menemukan Alur Tujuan Pembelajaran atau ATP.
Jika CP memberikan gambaran mengenai kompetensi yang perlu dicapai pada akhir fase, ATP membantu mengurutkan tujuan pembelajaran agar proses menuju capaian tersebut lebih terstruktur.
Dalam praktiknya, guru dapat menggunakan ATP yang tersedia sebagai referensi ketika menyusun perangkat pembelajaran. Guru tetap perlu menyesuaikannya dengan karakteristik peserta didik, kondisi satuan pendidikan, serta kebutuhan pembelajaran.
Dengan demikian, keberadaan contoh ATP tidak berarti guru harus menggunakan satu dokumen secara mentah untuk semua kelas.
Hubungan CP, TP dan ATP dalam Modul Ajar
Ketika menyusun modul ajar, guru akan berhadapan dengan beberapa istilah yang saling berkaitan, yaitu CP, TP, dan ATP.
Secara sederhana, CP menjadi gambaran kompetensi yang hendak dicapai peserta didik pada suatu fase. Dari CP tersebut, tujuan pembelajaran dapat dirumuskan sesuai kebutuhan pembelajaran. Selanjutnya, tujuan tersebut dapat disusun secara sistematis dalam sebuah alur tujuan pembelajaran.
Inilah sebabnya guru perlu memahami keterkaitan ketiganya sebelum menyusun modul ajar.
CP juga tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai teks yang harus ditempelkan ke dalam dokumen perangkat pembelajaran. Guru perlu memahami kompetensi yang terdapat di dalamnya sehingga tujuan pembelajaran yang dirancang benar-benar mendukung pencapaian kompetensi peserta didik.
Guru Bisa Memanfaatkan Perangkat Ajar yang Tersedia
Ruang GTK tidak hanya menyediakan informasi mengenai CP dan ATP. Di dalamnya terdapat berbagai bagian yang dapat dimanfaatkan guru untuk mendukung pengembangan kompetensi dan pembelajaran.
Ketersediaan sumber tersebut dapat membantu guru ketika membutuhkan referensi dalam menyiapkan perangkat ajar.
Namun, guru tetap perlu melakukan penyesuaian. Kondisi setiap sekolah dan karakteristik peserta didik tidak selalu sama, sehingga perangkat atau contoh yang tersedia perlu dipahami terlebih dahulu sebelum digunakan dalam pembelajaran.
Guru dapat mengambil bagian yang relevan sebagai referensi dan kemudian mengembangkannya sesuai kebutuhan.
Tidak Perlu Bingung Saat Mencari CP
Bagi guru yang baru pertama kali menggunakan Ruang GTK, banyaknya menu yang tersedia mungkin membuat pencarian terasa membingungkan.
Namun, ketika kebutuhan guru sudah jelas, pencarian dapat dilakukan dengan lebih terarah. Jika yang dibutuhkan adalah CP dan ATP, guru cukup menuju bagian perangkat ajar atau menu yang berkaitan dengan Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran.
Setelah itu, tentukan jenjang, mata pelajaran, dan fase.
Dengan cara tersebut, guru tidak perlu mencari dokumen secara acak karena informasi dapat disaring berdasarkan kebutuhan pembelajaran.
Perhatikan Dokumen CP Resmi
Meskipun contoh CP dan ATP dapat ditemukan melalui berbagai sumber, guru sebaiknya tetap memastikan bahwa dokumen yang digunakan berasal dari sumber resmi dan sesuai dengan mata pelajaran serta fase yang diajarkan.
Pemerintah melalui laman kurikulum Kemendikbud juga menyediakan dokumen CP untuk berbagai mata pelajaran. Dokumen tersebut menjelaskan kompetensi yang perlu dicapai peserta didik pada setiap fase.
Langkah tersebut penting agar perangkat pembelajaran yang disusun tidak menggunakan acuan yang sudah tidak sesuai atau berasal dari dokumen yang tidak jelas sumbernya.
Kesimpulan
Ruang GTK dapat dimanfaatkan guru untuk menemukan informasi CP dan ATP berdasarkan jenjang, mata pelajaran, serta fase pembelajaran. Guru dapat menggunakan sumber tersebut sebagai referensi ketika menyusun modul ajar dan perangkat pembelajaran lainnya. Namun, CP, TP, dan ATP tetap perlu dipahami serta disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan kebutuhan satuan pendidikan. Dengan memilih fase dan mata pelajaran secara tepat, guru dapat lebih mudah menemukan acuan pembelajaran yang relevan dan menyusun perangkat ajar secara lebih terarah.