PMM News – Ternyata tidak semua kepala sekolah dan pengawas otomatis menjadi peserta program ini, karena ada ketentuan khusus yang menentukan siapa saja yang menjadi sasaran.
Program Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam dan Coding serta Kecerdasan Artifisial melalui Ruang GTK menjadi salah satu agenda pengembangan kompetensi yang disiapkan pada tahun 2026. Program ini dirancang untuk memperluas kesempatan belajar bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah melalui pembelajaran yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Namun, terdapat hal penting yang perlu diketahui. Program tersebut tidak ditujukan secara umum kepada seluruh kepala sekolah dan pengawas sekolah tanpa melihat sasaran pelatihan lainnya. Dalam materi sosialisasi dijelaskan bahwa sasaran Pelatihan Mandiri ini adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah yang tidak menjadi sasaran pelatihan reguler di UPT.
Siapa yang menjadi sasaran?
Sasaran utama program ini adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah yang masuk dalam kriteria yang telah ditentukan. Salah satu ketentuan yang disampaikan dalam sosialisasi adalah peserta merupakan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang tidak menjadi sasaran pelatihan reguler di UPT.
Dengan adanya ketentuan tersebut, program Pelatihan Mandiri memiliki sasaran yang lebih terarah. Program ini tidak sekadar membuka pelatihan yang sama untuk seluruh peserta, tetapi menjadi bagian dari strategi memperluas akses pengembangan kompetensi.
Hal tersebut juga berkaitan dengan jumlah sasaran yang cukup besar. Untuk periode Oktober sampai Desember 2026, materi sosialisasi menyebutkan target sebanyak 45.000 peserta, dengan rincian 30.000 kepala sekolah dan 15.000 pengawas sekolah.
Target mencapai 45 ribu peserta
Jumlah tersebut dibagi selama tiga bulan. Setiap bulan terdapat target sekitar 10.000 kepala sekolah dan 5.000 pengawas sekolah.
Jika dihitung selama tiga bulan, target tersebut menjadi 30.000 kepala sekolah dan 15.000 pengawas sekolah. Totalnya mencapai 45.000 peserta.
Target yang besar tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program membutuhkan kesiapan dari berbagai sisi. Bukan hanya materi pembelajaran yang perlu disiapkan, tetapi juga sistem akses peserta, keterbacaan data, pencatatan progres, mekanisme post test, serta proses transisi menuju pembelajaran berikutnya.
Mengapa sasaran dibedakan?
Pelatihan Mandiri disiapkan sebagai salah satu moda pembelajaran yang fleksibel. Peserta dapat menyesuaikan waktu belajarnya masing-masing tanpa harus mengikuti pembelajaran secara serentak.
Dalam materi sosialisasi juga dijelaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengembangan kompetensi kepala sekolah dan pengawas melalui pembelajaran yang fleksibel, berkelanjutan, serta terhubung dengan kebutuhan praktik di satuan pendidikan.
Karena itu, sasaran program perlu diatur agar pelaksanaannya dapat menjangkau kelompok yang memang membutuhkan akses pengembangan kompetensi melalui jalur tersebut.
Kepala sekolah dan pengawas memiliki konteks berbeda
Materi yang diberikan kepada kepala sekolah dan pengawas juga tidak semata-mata diposisikan sama dengan pembelajaran untuk guru.
Kepala sekolah memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan. Sementara itu, pengawas sekolah mempunyai fungsi dalam pendampingan, pembinaan, penguatan kapasitas, serta pemantauan terhadap praktik pembelajaran di sekolah binaan.
Karena perbedaan tugas tersebut, pemahaman mengenai pembelajaran mendalam dan coding serta kecerdasan artifisial diharapkan dapat diterapkan sesuai konteks masing-masing.
Kepala sekolah diharapkan dapat menggunakan pemahaman tersebut untuk memperkuat kepemimpinan pembelajaran dan mendorong perubahan di lingkungan sekolah. Sementara pengawas dapat menggunakannya dalam proses pendampingan dan penguatan praktik pembelajaran.
Tidak hanya mengejar jumlah peserta
Program dengan target puluhan ribu peserta tentu membutuhkan sistem yang mampu mencatat siapa yang mengikuti, bagaimana progres pembelajaran, serta siapa yang telah menyelesaikan program.
Namun, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya peserta yang berhasil menyelesaikan pelatihan. Materi sosialisasi menekankan bahwa ukuran keberhasilan juga berkaitan dengan dampak pengembangan kompetensi terhadap perubahan praktik kepemimpinan dan pembelajaran.
Artinya, penyelesaian materi merupakan salah satu tahapan. Tujuan yang lebih besar adalah bagaimana pengetahuan dan pengalaman belajar tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan nyata di satuan pendidikan.
Perlu dukungan berbagai pihak
Dengan jumlah sasaran yang besar, pelaksanaan program tidak dapat hanya mengandalkan sistem pembelajaran. Kesiapan akses, data peserta, layanan dukungan, dan koordinasi antarunit juga menjadi bagian penting.
Dalam materi sosialisasi disebutkan perlunya koordinasi dengan BBGTK, BGTK, KGTK, Dinas Pendidikan, dan unit terkait. Koordinasi tersebut dibutuhkan apabila terdapat kendala peserta dalam proses pembelajaran sehingga dapat segera mendapatkan dukungan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Pelatihan Mandiri merupakan program yang melibatkan banyak pihak. Kepala sekolah dan pengawas sebagai peserta berada di bagian penting karena merekalah yang nantinya diharapkan membawa hasil pembelajaran ke lingkungan satuan pendidikan.
Peserta perlu memahami status dan sasaran
Bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah, memahami sasaran program menjadi hal yang penting sebelum mengikuti proses pembelajaran. Jangan hanya berpatokan pada informasi bahwa program tersedia di Ruang GTK, tetapi pahami pula ketentuan peserta yang menjadi sasaran.
Selain itu, peserta perlu mengikuti informasi resmi terkait akses, periode pembelajaran, penyelesaian, dan proses lanjutan. Hal ini diperlukan karena program berlangsung dalam beberapa batch dan jadwal dapat mengalami penyesuaian.
Kesimpulan
Pelatihan Mandiri PM KKA melalui Ruang GTK memiliki sasaran khusus, yaitu kepala sekolah dan pengawas sekolah yang tidak menjadi sasaran pelatihan reguler di UPT. Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, target yang disiapkan mencapai 45.000 peserta, terdiri dari 30.000 kepala sekolah dan 15.000 pengawas. Karena itu, peserta perlu memahami ketentuan sasaran sekaligus mengikuti informasi resmi mengenai pelaksanaan agar program dapat dimanfaatkan secara tepat.