Ada Modul, Video hingga Post Test! Begini Isi Pelatihan Mandiri Ruang GTK

PMM News – Bukan sekadar membaca materi, peserta akan menemukan rangkaian pembelajaran mulai dari modul, video, aktivitas, hingga post test dan aksi nyata di dalam Ruang GTK.

Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam dan Coding serta Kecerdasan Artifisial atau PM KKA melalui Ruang GTK disiapkan bukan hanya sebagai ruang untuk menyelesaikan sejumlah materi. Program ini dirancang agar peserta memperoleh pengalaman belajar yang dapat dikaitkan dengan tugas dan persoalan nyata yang dihadapi kepala sekolah maupun pengawas sekolah.

Konsep tersebut menjadi penting karena peserta memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan guru. Kepala sekolah berperan dalam kepemimpinan pembelajaran dan penguatan ekosistem sekolah, sedangkan pengawas sekolah memiliki tugas pendampingan, pembinaan, serta penguatan kapasitas sekolah binaan.

Pembelajaran dimulai dari materi pengantar

Berdasarkan materi sosialisasi, alur pembelajaran diawali dengan konten pengantar Pelatihan Mandiri. Bagian ini memberikan gambaran awal mengenai program dan pembelajaran yang akan diikuti.

Setelah memahami pengantar, peserta dapat masuk ke materi pembelajaran yang telah disediakan. Proses tersebut dilakukan melalui fitur Pelatihan Mandiri di Ruang GTK.

Konsep pembelajaran dibuat fleksibel. Peserta dapat mengatur sendiri waktu belajar sehingga prosesnya dapat menyesuaikan dengan aktivitas kepala sekolah dan pengawas yang cukup beragam.

Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu karakter penting dari moda Pelatihan Mandiri. Peserta memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengatur ritme belajarnya hingga menyelesaikan seluruh rangkaian yang dipersyaratkan.

Ada modul dan ringkasan topik

Struktur pembelajaran yang disiapkan memuat beberapa bagian. Dalam materi sosialisasi disebutkan adanya modul, ringkasan topik, post test, dan aksi nyata.

Modul menjadi bagian utama untuk membantu peserta memahami materi yang diberikan. Sementara ringkasan topik dapat membantu peserta mendapatkan gambaran mengenai inti pembelajaran.

Materi tersebut tidak diarahkan sekadar untuk menambah pengetahuan. Pengalaman belajar diharapkan dapat dikaitkan dengan tugas dan persoalan nyata yang dihadapi kepala sekolah dan pengawas di lingkungan satuan pendidikan.

Dengan pendekatan seperti ini, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep. Materi yang dipelajari dapat menjadi bahan untuk melihat kembali kondisi dan praktik yang berlangsung di sekolah.

Post test menjadi bagian pembelajaran

Setelah menyelesaikan rangkaian materi, peserta akan mengikuti post test akhir. Post test menjadi salah satu bagian yang disiapkan dalam mekanisme pembelajaran.

Dalam materi sosialisasi, kesiapan mekanisme post test juga disebut sebagai salah satu aspek yang perlu dipastikan sebelum pelaksanaan program. Artinya, sistem tidak hanya menyediakan konten, tetapi juga mekanisme untuk melihat penyelesaian pembelajaran peserta.

Peserta perlu mengikuti seluruh alur yang tersedia dalam sistem dan memperhatikan status progres pembelajaran masing-masing.

Ada aksi nyata

Hal yang menarik dalam struktur Pelatihan Mandiri adalah adanya aksi nyata. Bagian ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak diarahkan hanya pada penyelesaian materi.

Aksi nyata memungkinkan pengalaman belajar dikaitkan dengan praktik yang dilakukan di satuan pendidikan. Dengan demikian, peserta dapat melihat hubungan antara materi yang dipelajari dengan persoalan atau kebutuhan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas.

Bagi kepala sekolah, pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan kepemimpinan pembelajaran, penggerakan perubahan, serta penguatan ekosistem belajar.

Sementara bagi pengawas sekolah, pembelajaran dapat mendukung proses pendampingan, penguatan kapasitas, refleksi, dan perbaikan praktik pembelajaran di sekolah.

Belajar mandiri membutuhkan pengaturan waktu

Karena pembelajaran dilakukan secara mandiri, peserta memiliki fleksibilitas dalam menentukan kapan akan mempelajari materi. Namun, fleksibilitas tersebut tetap membutuhkan kedisiplinan.

Materi sosialisasi menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam dalam Pelatihan Mandiri tidak ditutup secara lintas waktu secara kaku, sehingga peserta dapat menyesuaikan waktu belajar masing-masing.

Meski demikian, terdapat lini masa penyelesaian yang digunakan sebagai cut off penarikan data peserta yang telah menyelesaikan Pelatihan Mandiri. Data tersebut diperlukan untuk proses pendaftaran Bimtek daring pada LMS.

Karena itu, peserta tetap perlu memperhatikan jadwal yang berlaku meskipun waktu belajar sehari-hari dapat disesuaikan.

Berbeda dengan Diklat Bauran

Pelatihan Mandiri juga perlu dibedakan dengan Diklat Bauran. Dalam materi sosialisasi dijelaskan bahwa Pelatihan Mandiri lebih menekankan pembelajaran mandiri, sedangkan Diklat Bauran memberikan pembelajaran lanjutan dengan pendekatan yang lebih mendalam.

Pada Diklat Bauran terdapat unsur interaksi yang berbeda. Salah satu bagian yang disebut dalam materi adalah forum diskusi yang memungkinkan komunikasi dua arah antarpeserta.

Dengan demikian, Pelatihan Mandiri menjadi salah satu tahap penting untuk membangun pemahaman dasar sebelum peserta melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tujuan akhirnya bukan sekadar selesai

Program ini dirancang agar kepala sekolah dan pengawas sekolah tidak hanya menyelesaikan materi. Hasil pembelajaran diharapkan memberikan kontribusi terhadap perubahan praktik di satuan pendidikan.

Materi sosialisasi menekankan bahwa ukuran keberhasilan program tidak semata-mata dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti dan menyelesaikan pelatihan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengembangan kompetensi tersebut memberikan kontribusi terhadap perubahan praktik kepemimpinan dan pembelajaran serta kualitas pembelajaran yang dirasakan murid.

Karena itu, peserta perlu memandang Pelatihan Mandiri sebagai kesempatan untuk menghubungkan materi dengan tugas sehari-hari.

Kesimpulan

Pelatihan Mandiri PM KKA di Ruang GTK memiliki struktur pembelajaran yang terdiri dari konten pengantar, modul, ringkasan topik, aktivitas pembelajaran, post test, dan aksi nyata. Sistem tersebut dirancang agar peserta dapat belajar secara fleksibel sekaligus menghubungkan materi dengan persoalan nyata di satuan pendidikan. Dengan memahami alurnya sejak awal, kepala sekolah dan pengawas dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih terarah dan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi.